Petungan Jawa

Menjadi Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Pakai BLANGKONmu, tunjukkan tawadhu’mu, endapkan nafsu kesombonganmu, maka jadilah insan kamil, meruwat semesta agar damai senantiasa. Blangkon adalah tiruan UDHENG atau DHESTAR atau IKET. Materialnya memang hanya selembar kain belaka. Fungsi kasatmatanya memang hanya sebagai pengikat rambut dan penutup kepala. Tapi BLANGKON mengisyaratkan sikap diri pemakainya yang harus lembah manah andhap asor (rendah hati). Rambut […]

Petungan Jawa

Logo Baru BIJAK JAWA: Meneguhkan Diri Sebagai Sahabat

Mengapa memilih Semar? Ada pepatah lama Jawa yang bunyinya begini: balilu tau, pinter durung nglakoni. Terjemahannya ke bahasa Indonesia kurang-lebih begini: bodoh tapi punya pengalaman dibandingkan pintar tapi belum punya pengalaman. Sarkum seorang tamatan SD. Petani yang sukses. Dan memiliki pengalaman jatuh-bangun bertani selama belasan tahun. Joni seorang sarjana pertanian. Lulus cum laude. Setahun terakhir […]

Wulang-Wuruk-Pitutur

Anda Harus Bahagia!

Gelisah. Kuatir. Gusar. Hilang sabar. Pernahkah Anda mengalami? Kapan? Hampir tiap hari?! Sama. Di sekitar Anda banyak orang dilanda perasaan yang sama. Sama seperti Anda. Stop sejak hari ini! Dan jangan ulangi lagi! Hidup Anda harus bahagia! Kebahagiaan tidak berada di titik-titik kepuasan. Karena puas adalah ekspresi berahi. Tidak berarti bagi ruhani. Anda butuh capaian […]

Srawung Wayang

Srikandhi: The Real Hero of Mahabharata Epic

Srikandhi adalah salah satu puteri kerajaan Pancala. Konon, adik Drupadi ini tercipta dari api pemujaan. Pada masa lajangnya ia berguru memanah kepada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Pada hari ke-sepuluh berlangsungnya perang dahsyat Bharatayuddha, Srikandhi ditahbiskan oleh Kresna sebagai panglima tertinggi pasukan kubu Pandhawa. Di Kurusetra, Srikandhi bertanding dengan kampiun perang tiga generasi, Maharsi Bhisma. […]

Petungan Jawa

Sudahkah Anda Pasrah?

Pasrah bukan sekadar berserah. Pasrah adalah bersaksi atas kuasa Tuhan. Bersaksi atas kemahaadilan Tuhan. Bersaksi atas limpahan kasih-sayang Tuhan. KeadilanNya yang tak bercela. KeagunganNya yang tiada berkurang. Menunaikan kesaksian itu mudah jika Anda rajin membaca tanda-tanda. Membaca yang ada di balik peristiwa. Membaca yang hadir di belakang kenyataan. Membaca kehendak Tuhan lewat tingkah makhlukNya. Membaca […]

Petungan Jawa

Ada yang Harus Kau Ketahui di Balik Pahitnya Peristiwa

Segala yang terbersit di pikiran manusia sudah tentu atas perkenanNya. Tapi manusia tetap manusia. Tak luput dari godaan. Tak kebal dari ujian. Ada saja hal yang berpotensi mengurangi kemurnian cita-cita. Juga mengotori sikap dan kata. Maka sudah semestinya Tuhan melindungi kita dari petaka akibat rencana yang cemar oleh hasrat fana. Maka sesungguhnya, harapan Anda yang […]

Petungan Jawa

Cakra Manggilingan: Rahasia Hidup yang Sederhana

Pagi berangkat bekerja, senja pulang ke rumah. Malam tidur, pagi bangun. Peristiwa terulang lagi. Segera berangkat bekerja lagi. Senja hari pulang ke rumah lagi. Sederhana. Seperti berjalan memutar. Seperti mengelilingi lingkaran. Dari titik tertentu kita memulai, ternyata berakhir pada titik itu juga. Ternyata kita berangkat bukan untuk pergi meninggalkan. Justru sebaliknya. Kita berangkat untuk pergi […]

Petungan Jawa

Wang-Sinawang, Ilmu Perspektif Jawa

Yen Panjenengan nyawang gunung Lawu saka Delanggu Klaten, mesthine sing katon ya mung wewujudan memper kukusan cilik rupane klawu (abu-abu). Yen Panjenengan gelem ngetan meneh tekan Jaten Karanganyar, gununge wis bakal katon mundhak gedhe tur wernane malih biru. Yen Panjenengan gelem mbacutake laku munggah ngetan tekan Karangpandan utawa Matesih, bakal sansaya katon ngegla yen jebulane […]

Wulang-Wuruk-Pitutur

Kunci Pemimpin yang Tegas: Meguru Marang Geni

Ada dua sifat dari nyala api. Pertama menerangi. Kedua membakar. Panjenengan kudu murub kaya geni. Banjur kudu madhangi. Padhangana atine sanak-sedulur, tangga-teparo, kanca-rowang sing peteng jalaran kahanan uripe sing kebak pacoban. Padhangana nganggo urube atimu sing kaya srengenge. Panas nanging ora nglarani. Panas nanging nguripi. Sebab, welas-asih pancen ora kudu dicakake nganggo tetembungan alus manis […]