Logo Baru BIJAK JAWA: Meneguhkan Diri Sebagai Sahabat

Mengapa memilih Semar?

Ada pepatah lama Jawa yang bunyinya begini: balilu tau, pinter durung nglakoni. Terjemahannya ke bahasa Indonesia kurang-lebih begini: bodoh tapi punya pengalaman dibandingkan pintar tapi belum punya pengalaman.

Sarkum seorang tamatan SD. Petani yang sukses. Dan memiliki pengalaman jatuh-bangun bertani selama belasan tahun. Joni seorang sarjana pertanian. Lulus cum laude. Setahun terakhir laris menjadi pembicara seminar pertanian. Keliling negeri. Tapi belum pernah punya pengalaman menjadi petani.

Kalau Anda ditawari mendengarkan tuturan Sarkum dan Joni, kira-kira lebih condong memilih siapa? Kalau saya yang ditawari, serta merta saya memilih Sarkum.

Tuturan, dongengan, kisahan, mungkin juga keluhan dari Sarkum akan lebih hidup. Dan tentu lebih memikat untuk didengarkan atau disaksikan. Karena Sarkum pasti mampu menyuguhkan cerita suka-duka bertani sepanjang yang telah dilakoninya. Memang bisa dipastikan, tidak akan banyak teori referensial yang akan dikutip oleh Sarkum. Tapi tentu banyak teori orisinal hasil perasan pengalaman sehari-hari yang akan dibagikan Sarkum kepada semua pendengarnya.

Lagi pula, siapa yang akan lancang menyangkal atau menyangsikan paparan teori dari orang yang sudah berhasil mempraktikkan dengan tangan dan kakinya sendiri?

Kembali ke Semar. Kita semua tahu, Semar adalah tokoh pemeran batur. Sohib/karib bagi para putra Pandhu di epos Mahabharata. Sebagai anak Sanghyang Tunggal, Semar pernah merasakan hidup di Suralaya. Menjadi terhormat karena derajat-pangkat.

Adapun penyebab ditugaskannya Semar menjadi jelata di Arcapada adalah karena telah berbuat salah. Semar, tokoh yang seringkali kita elu-elukan sebagai figur teladan itu pernah berbuat salah. Hukuman dijatuhkan kepadanya. Diterima dan dijalaninya hukuman sebagai akibat dari perbuatan salah itu dengan sepenuh kesadaran dan tanggungjawab.

Maka, selanjutnya, di episode kehidupan sebagai jelata, yang keluar dari mulut Semar adalah kata-kata kebijaksanaan. Yang ditunjukkan dalam perilaku melulu teladan kebajikan. Sari-sari pengalaman hidupnya sendiri yang sungguh tidak lempeng dan datar itu.

Jika kemudian kita lebih percaya kepada nasihat, wejangan, petuah, anjuran, dari seorang yang punya pengalaman pernah melanggarnya sendiri, bukankah sama halnya dengan analogi Sarkum dan Joni tadi?

Kita semua sedang dalam keadaan darurat, membutuhkan sahabat seperti Semar. Sahabat yang setia mengingatkan. Tapi bukan karena kekayaan kosakatanya. Sahabat yang setia mengingatkan karena ia pernah merasakan sendiri pedihnya terjerumus. Kuyup di kubangan. Karena tidak mengindahkan peringatan dari seorang sahabat.

Di sini Bijak Jawa meneguhkan diri. Menyediakan diri. Dan mengajak Anda semua untuk menjadi sahabat. Karena pernah mengalami sendiri peristiwa merugi oleh sebab mengabaikan sahabat.

Jadi, sesungguhnya Bijak Jawa sangat menyadari kebodohan yang disandang. Juga menyadari kekhilafan yang pernah dilakukan. Adapun keberanian Bijak Jawa berbagi pesan, tidak ada maksud lain kecuali untuk bersama para sahabat meraih selamat dalam hidup bermasyarakat.

Tidak ada yang lebih mulia di dalam kebersamaan selain kesanggupan untuk saling mengingatkan.

Bijak Jawa/Mbelinger Store Jl. Kebun Raya 43 Jogjakarta (0274) 2127777

 

Sugito Ha Es

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*