Pantang Menyerah, Selalu Bergairah

Anda pernah bertamasya ke pantai? Pasti pernah.

Berapa kali dalam setahun Anda menikmati suasana pantai? Pasti lebih dari sekali.

Apa yang paling mengesankan bagi Anda dari semua yang tampak di pantai? Untuk hal ini saya tidak berani bilang ada yang pasti.

Di pantai sore hari mungkin Anda akan terhipnotis menawannya suasana saat sunset yang tidak hanya meneduhkan bumi namun juga meneduhkan hati Anda sendiri. Di pantai malam hari mungkin Anda akan betah berlama-lama merebahkan punggung di hamparan pasir, tengadah memandang langit, menghitung bintang. Di pantai pagi hari mungkin Anda akan puas berlari-lari, melompat-lompat, lalu berseru lantang, memanggil satu nama, mungkin nama kekasih, meluapkan pendaman rindu untuk disaksikan alam. Dan masih banyak yang mungkin dan yang indah untuk Anda lakukan di sana, di pantai, apa pun namanya.

Dan mungkin Anda melewatkan satu pemandangan yang satu ini: gulungan ombak menyerbu karang.

Kapan-kapan kalau pergi ke pantai lagi, coba amati. Ada peristiwa dahsyat yang sayang untuk dilewatkan. Peristiwa hubungan dua mahluk bernama ombak dan karang. Ombak yang tidak pernah jera mengulang. Dan karang yang pantang tumbang.

Gelombang tinggi ada kalanya datang dan ada kalanya hilang. Tapi ombak tak pernah hilang. Ombak senantiasa datang. Berulang-ulang menyerang karang. Selalu pecah dan kalah. Tapi tak pernah jera untuk kembali datang. Sedangkan karang selalu tenang. Selalu diam. Namun di balik penampakannya yang pasif dan rapuh itu, karang punya kekuatan yang terbukti ampuh untuk menghadapi hantaman ombak yang datang setiap saat.

Di pantai, kita bisa sejenak membaca segelaran ayat-ayat Tuhan berupa peristiwa pantang menyerahnya batu karang dan selalu bergairahnya ombak lautan. Di pantai, kita bisa sekejap merenungkan keteladanan ombak, si pemilik sifat istiqamah: tekun bekerja, tabah berusaha, percaya diri memandang ke depan, pantang meminta menghinakan diri sendiri. Juga merenungkan keteladanan batu karang, si pemilik sifat teguh sentausa: tak miring oleh kedudukan, tak oleng oleh jaminan, tak takabur oleh kemampuan, tak goyah oleh rayuan, tegak setegak insan beriman.

Maka tidak mengherankan apabila leluhur kita di masa lampau mengabadikan keteladanan ombak dan batu karang itu lewat goresan canthing menjelma corak motif bathik PARANG

Akankah kita malu berguru pada ombak dan karang? Akankah kita malu mengenakan kain bathik motif Parang?

Akankah kita percaya diri bertahan menjadi si pemalas, si pecundang, si pemurung, si penghiba, si pencela?

Jawabannya sudah pasti. Ada di dalam diri sendiri.

Bijak Jawa/Mbelinger Store Jl. Kebun Raya 43 Jogjakarta, selatan Gembira Loka Zoo. Telp. (0274) 2127777. Customer Service Online 081915554397 (SMS/WA), 5B638049 (BBM) dan 087734024001 (SMS/WA), D068622C (BBM).

 

Sugito Ha Es

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*